Hari ini pemerintah terlalu pandai membuat slogan tentang pendidikan, tetapi terlalu lambat memanusiakan guru. Setiap peringatan Hari Guru, pidato penghormatan dibacakan dengan penuh semangat, ucapan “pahlawan tanpa tanda jasa” terus diulang, namun setelah seremoni selesai, guru kembali dibiarkan berjuang sendiri menghadapi kerasnya hidup.
Front Mahasiswa Lombok Barat menilai bahwa pemerintah hari ini gagal menghadirkan keadilan bagi para pendidik, khususnya guru honorer di daerah. Bagaimana mungkin guru yang mengajarkan generasi bangsa, membentuk moral, mengenalkan ilmu pengetahuan, bahkan mengantarkan lahirnya pejabat-pejabat hari ini, justru hidup dengan gaji yang bahkan tidak cukup memenuhi kebutuhan dasar?
Sungguh ironi negeri ini:
guru datang paling pagi, pulang paling akhir dan mengajar dengan penuh kesabaran,
tetapi dihargai dengan honor yang memalukan.
Sementara di sisi lain, pejabat nyaman duduk di kursi empuk kekuasaan, menikmati fasilitas negara, perjalanan dinas, tunjangan besar, bahkan rapat-rapat mewah sambil berbicara tentang “kemajuan pendidikan”.
Pertanyaannya:
kemajuan pendidikan untuk siapa, jika gurunya sendiri belum disejahterakan?
Kami melihat pemerintah terlalu sibuk membangun pencitraan dibanding membangun kesejahteraan guru. Pendidikan dijadikan bahan kampanye politik, tetapi nasib guru hanya dijadikan janji yang terus diulang setiap momentum pemilu.
Lebih menyakitkan lagi, banyak guru honorer mengabdi bertahun-tahun tanpa kepastian status dan kesejahteraan. Mereka tetap bertahan bukan karena negara hadir, tetapi karena ketulusan mengabdi untuk masa depan anak bangsa. Negara seakan menikmati pengorbanan guru tanpa merasa malu terhadap ketidakadilan yang terjadi.
Front Mahasiswa Lombok Barat menegaskan:
Jangan bicara kualitas pendidikan jika guru masih hidup dalam ketidakpastian.
Jangan bicara generasi emas jika orang yang mencetak generasi itu justru diperlakukan tidak manusiawi.
Dan jangan terlalu bangga duduk di kursi jabatan, sebab tanpa guru, kalian tidak akan pernah mengenal huruf, ilmu, bahkan kekuasaan itu sendiri.
Kami percaya, kehancuran sebuah bangsa bukan dimulai ketika gedung runtuh, tetapi ketika guru kehilangan harapan karena diabaikan oleh kebijakan.
Maka melalui suara ini, kami mendesak pemerintah daerah:
1. berhenti menjadikan guru sebagai simbol pidato,
2.berhenti menjadikan pendidikan sebagai alat pencitraan,
3.dan mulai menghadirkan kebijakan yang benar benar berpihak kepada kesejahteraan guru.
Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang kaya pejabat, tetapi bangsa yang menghormati gurunya dengan tindakan, bukan sekadar kata-kata.


Tinggalkan Balasan